Mengupas Hadis-Hadis Tentang Toleransi

Pakar Hadis dan Dosen Pascasarjana IAIN Sunan Ampel

عَنِ ابْنِ عَمْرٍو رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ :خَيْرُ الأَصْحَابِ عِنْدَ اللهِ خَيْرُهُمْ لِصَاحِبِهِ وَخَيْرُ الْجِيرَانِ عِنْدَ اللهِ خَيْرُهُمْ لِجَارِهِ (أَخْرَجَهُ أَحْمَدُ، وَالتِّرْمِذِيُّ وَابْنُ حِبَّانَ، وَالْحَاكِمُ وَالْبَيْهَقِيُّ فِى الشُّعَبِ وَ سَعِيْدُ بْنُ مَنْصُورٍ وَالدَّارِمِيُّ وَالبُخَارِيُّ فِى الأَدَبِ الْمُفْرَدِ وَابْنُ خُزَيْمَةَ)

Dinarasikan Ibnu `Amr RA, sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda, “Sebaik-baik sahabat di sisi Allah adalah yang paling baik di antara mereka terhadap sesama saudaranya. Dan, sebaik-baik tetangga di sisi Allah adalah yang paling baik di antara mereka terhadap tetangganya.” (HR. Ahmad, Turmudzi, Ibnu Hibban, Hakim, Baihaqi dalam Syu’abul Iman, Sa’id bin Manshur, ad-Darimi, Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad, dan Ibnu Khuzaimah).

Toleransi dalam kajian fiqih Islam masuk kategori al-mu’amalat (interaksi sosial) yang mendapatkan porsi besar. Hal ini tampak dalam berbagai penjelasan Rasulullah SAW yang termaktub dalam banyak sekali literatur hadis. Bahkan dalam konsep al-Qur’an, manusia akan terpuruk dalam kesesatan jika dia tidak menemukan singkronisasi kebajikan, baik yang ada hubungannya secara vertikal maupun horizontal.

Berbagai kodifikasi hadis telah dibukukan oleh ulama, khususnya hadis-hadis yang secara tematik membahas tentang toleransi. Terkait dengan masalah toleransi ini, kekeliruan tampak sangat jelas pada tuduhan kalangan non muslim ketika memasukkan toleransi pada ranah at-ta`abbbudiyah (ibadah), yang jelas bukan ranah sosial. Karena itu, umat Islam harus waspada, pada batas wilayah apakah Islam membenarkan toleransi dan pada wilayah manakah Islam menolak toleransi.

Hadis-hadis toleransi

Sejak hijrah ke Madinah, kegiatan pertama yang dilakukan Rasulullah SAW adalah menata keharmonisan hidup di tengah lingkungan masyarakat yang majemuk. Sebagaimana dimaklumi, penduduk Madinah memiliki latar belakang multi agama dan kepercayaan, bahkan multi kultural.

Salah satu factor yang mendorong hijrah Nabi SAW dari Mekkah ke Madinah adalah tidak ditemukannya sosok yang mampu mendamaikan pertikaian antar suku penduduk Madinah, terutama kelompok Khazraj dan Aus. Suku-suku Madinah itu menyadari sepenuhnya bahwa hanya dengan kehadiran Rasulullah SAW cita-cita hidup bersama secara toleran akan tercapai.

Untuk menjawab kebutuhan mereka itulah, tidak henti-hentinya penduduk Madinah meyakinkan kepada Rasulullah SAW bahwa mereka akan memberikan jaminan keamanan bahkan dukungan militer. Sehingga, dua kali mereka mengadakan pembaiatan (janji setia) kepada Rasulullah, yang dalam catatan sejarah disebut Bai`at Aqabah pertama dan Bai`at Aqabah kedua.

Hadis-hadis yang memaparkan toleransi cukup banyak, sebagaimana yang telah penulis ungkapkan di depan. Berikut ini penulis uraiakan hal yang tampak sangat sederhana namun memiliki dampak yang luar biasa dalam menggambarkan toleransi yang dibina oleh Rasulullah SAW

 

Mencintai semua tetangga

Mencintai sesama tetangga dijelaskan, antara lain, dalam sebuah hadis yang  diriwayatkan oleh Anas bin Malik sebagai berikut:

عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ لَا يُؤْمِنُ عَبْدٌ حَتَّى يُحِبَّ لِجَارِهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ (أَخْرَجَهُ مُسْلِمٌ وَ أَبُو يَعْلَى)

Dinarasikan Anas bin Malik RA, sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda, “Demi (Allah) yang jawaku di tangan-Nya, tidaklah beriman seorang hamba sehingga dia mencintai tetangganya sebagaimana dia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Muslim dan Abu Ya’la: 2967).

Mencintai diri sendiri tidaklah cukup untuk menggambarkan kualitas keimanan seseorang, melainkan juga harus dibuktikan dengan mencintai semua tetangganya. Kata “tetangga” dalam teks hadis ini cakupannya bersifat umum, yakni tetangga sesama Muslim atau tetangga non Muslim.

Sebagaimana diketahui, Rasulullah SAW tidak hanya bertetangga dengan Muslim namun beliau juga bertetangga dengan non Muslim. Di sekitar Madinah kala itu ada orang Yahudi, Nasrani, dan lainnya. Mereka sama-sama mempunyai hak untuk dicintai. Dalam riwayat lain, mereka juga punya hak untuk mendapatkan kedamaian.

Dalam redaksi hadis lain Rasulullah SAW bersabda:

عَنِ ابْنِ عَمْرٍو رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ :خَيْرُ الأَصْحَابِ عِنْدَ اللهِ خَيْرُهُمْ لِصَاحِبِهِ وَخَيْرُ الْجِيرَانِ عِنْدَ اللهِ خَيْرُهُمْ لِجَارِهِ (أَخْرَجَهُ أَحْمَدُ، وَالتِّرْمِذِيُّ وَابْنُ حِبَّانَ، وَالْحَاكِمُ وَالْبَيْهَقِيُّ فِى الشُّعَبِ وَ سَعِيْدُ بْنُ مَنْصُورٍ وَالدَّارِمِيُّ وَالبُخَارِيُّ فِى الأَدَبِ الْمُفْرَدِ وَابْنُ خُزَيْمَةَ)

Dinarasikan Ibnu `Amr RA, sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda, “Sebaik-baik sahabat di sisi Allah adalah yang paling baik di antara mereka terhadap sesama saudaranya. Dan, sebaik-baik tetangga di sisi Allah adalah yang paling baik di antara mereka terhadap tetangganya.”

Hadis ini diriwayatkan oleh Ahmad: 6566, Turmudzi: 1944, Ibnu Hibban: 518, Hakim: 1620, Baihaqi dalam Syu’abul Iman: 9541, Sa’id bin Manshur: 2388, ad-Darimi: 2437, Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad: 115, dan Ibnu Khuzaimah: 2539.

Pada teks hadis di atas tampak jelas bahwa sebaik-baik insan Muslim adalah dia yang terbaik mu’amalah (hubungan sosialnya) dengan semua tetangganya, baik tetangga Muslim maupun non Muslim. Mereka semua harus mendapatkan sentuhan kasih sayang dan kedamaian.

Itulah sebabnya, sejarah membuktikan bahwa banyak unsur masyarakat yang berdampingan secara damai dengan Rasulullah, sebelum Madinah dinyatakan sebagai tanah haram (yang tidak boleh dihuni kecuali oleh Muslim). Rasulullah SAW kala itu bahkan bertetangga dengan orang Yahudi, Nasrani, dan lain-lain secara damai.

Larangan menzalimi kafir dzimmi

Di samping menjalin kemesraan dengan non Muslim, Rasulullah SAW juga mengadakan kontak dagang dengan non Muslim. Bahkan, menurut keterangan sebuah hadis, Nabi SAW sempat meminjam barang kepada seorang Yahudi dengan menggadaikan baju besinya. Klimaks dari toleransi itu tercatat dalam hadis bahwa Rasulullah SAW melarang umatnya untuk menyakiti kafir dzimmi, sebagai berikut:

عَنِ ابْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : مَنْ آذَى ذِمِّيًّا فَأَنَا خَصْمُهُ وَمَنْ كُنْتُ خَصْمَهُ خَصَمْتُهُ يَوْمَ القِيَامَةِ (أَخْرَجَهُ الخَطِيبُ فِي تَارِيخِ بَغْدَادٍ)

Dinarasikan Ibnu Mas’ud RA, sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda, “Siapa yang menyakiti seorang kafir dzimmi, maka aku kelak yang akan menjadi musuhnya. Dan siapa yang menjadikanku sebagai musuhnya, maka aku akan menuntutnya pada hari kiamat.”

Hadis ini diriwayatkan Khathib al-Baghdadi dalam Tarikh Bagdad: 8/370. Hadis ini juga memiliki dua jalur sanad yang sama-sama lemah.

Dari paparan di atas, tampak begitu mulianya ajaran Islam di mata internal umat Islam maupun non Muslim. Ibarat lebah, sekiranya orang tidak menganggunya tentu dia akan dapat menikmati madunya. Namun sekiranya ada orang yang mengganggunya jangan disalahkan apabila ia menyengat bahkan mematikan.

Itulah gambaran kehadiran umat Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin. Rahmat atau kasih saying itu tidak hanya dirasakan umat Islam, tapi non Muslim pun juga ikut merasakannya.

Maka hati-hati memahami hadis yang sekilas dapat difahami keliru sehingga mengidentikkan Islam sebagai teroris, seperti ‘menghabisi’ non Muslim di jalanan dan lainnya. Seharusnya hadis-hadis seperti ini difahami secara proporsional. Kajian hadis di Barat diwarnai dengan teks-teks seperti di atas secara parsial, sehingga Islam tidak pernah difahami sebagai agama pembawa rahmat (kasih sayang).

Sumber :http://www.majalahgontor.net

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s